Mengucap Syukur

Mengucap Syukur

3 Feb 2013

Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.

(Filipi 1:3)

Baca Filipi 1:3-11

 

Mengucap syukur adalah kalimat yang mungkin tidak asing lagi di pendengaran kita, kalimat ini sering kita dengar baik dalam khotbah-khotbah di gereja maupun dalam doa dan nyanyian rohani yang sering kita dengar. Mengucap syukur adalah kalimat yang mudah diucapkan namun apakah mudah mengucap syukur, dapatkah kita mengucap syukur ketika ada yang menyakiti kita, dapatkah kita mengucap syukur ketika keadaan ekonomi keluarga tidak membaik, dapatkah kita mengucap syukur ketika kita kehilangan orang yang kita sayang dan kasihi, dapatkah kita mengucap syukur ketika harapan kita tidak tercapai. Terkadang kita hanya bisa mengucap syukur ketika keadaan kita baik-baik saja, kita mengucap syukur jika kita naik jabatan, kita mengucap syukur jika menempati rumah baru, kita mengucap syukur jika sembuh dari sakit, kita mengucap syukur jika kita berulangtahun. Mengucap syukur tatkala keadaan kita baik bukanlah hal yang salah, namun pertanyaannya adalah jika kita diperhadapkan situasi yang sebaliknya dapatkah kita mengucap syukur.

 

Dalam suratnya paulus selalu menuliskan ucapan syukur, hal ini memang sesuai dengan kebiasaan saat itu. Sesudah salam Paulus melanjutkan suratnya dengan ucapan “Mengucap syukur kepada Allah”, ia “mengucap syukur” (Yunani: eucharisto = mengucap syukur) bukan saja atas apa yang ia sendiri, langsung atau tidak langsung (dengan perantaraan jemaat), terima dari Tuhan Allah, tetapi juga atas segala sesuatu yang ia berikan kepada orang lain. Semuanya nyata dalam surat ini. Ia mulai dengan ucapan syukur atas keadaan yang menggembirakan itu telah banyak kali ia terima dari jemaat Filipi. Buah dari keadaan yang menggembirakan itu telah banyak kali ia nikmati dalam pekerjaannya (ay.4:15.16).

 

Ia mengucap syukur kepada Allahnya. Ucapan “Allahku” (Theoimou), yaitu oleh seorang anggota jemaat sebagai individu hal ini diluar kebiasaan paulus yang sering memakai kata “Allah kita”. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, hal ini jugalah yang membuat Paulus tetap bisa bersyukur atas segala hal yang dia alami. Kedekatan dengan Allahnya memampukan dia untuk melihat bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal  yang dialaminya.  Selain itu dikatakan dalam suratnya bahwa Paulus mengucap syukur setiap kali mengingat jemaat yang ada di Filipi, bukan karena (Jemaat Filipi) adalah orang-orang yang sempurna atau tidak memiliki cacat cela. Alasan Paulus mengucap syukur atas jemaat ini adalah karena kemurahan Allah semata bagi jemaat Filipi yang hidupnya tidak sesuai dengan apa yang Tuhan mau.

 

Mungkin kita juga diperhadapkan dengan situasi yang sama dengan Paulus, kita memiliki anak yang susah diatur, kita memiliki suami yang bermasalah, kita memiliki istri yang bawel, memiliki atasan atau pimpinan yang Judes , bawahan yang lambat, mertua yang suka ikut campur urusan rumah tangga kita, pacar yang suka selingkuh, rekan kerja yang arogan dan cenderung mau menjatuhkan kita atau bisa saja kita diperhadapkan dengan situasi yang lain. Pertanyaannya mampukah kita mengucap syukur kepada Allah karena orang-orang yang mungkin membuat kita jengkel, marilah kita mengucap syukur kepada Allah bukan tertuju kepada mereka melainkan karena Allah begitu mengasihi mereka. Dan Allah ingin mereka berubah, Tuhan mau memakai kita untuk membuat hidup mereka. Tugas kita adalah mengucap syukur dan berdoa untuk mereka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>